[ MDBEI - Month Data Based Economic Insight ] Ancaman Shrinkflation di Tengah Kenaikan Harga Plastik
Ancaman Shrinkflation di Tengah Kenaikan Harga Plastik
Kekhawatiran akan fenomena kenaikan harga plastik sebagai bahan baku kemasan yang populer di indonesia memicu kekhawatiran sebab meningkatnya fenomena shrinkflation di Indonesia. Para ahli ekonom mengingatkan bahwa praktik shrinkflation ini adalah strategi yang digunakan para produsen untuk mengatasi lonjakan biaya produksi tanpa harus menaikkan harga jual secara langsung dengan cara mengurangi ukuran, berat, atau jumlah isi dari suatu produk, tetapi mereka tetap menjualnya dengan harga yang sama (Alice et al, 2025). Cara ini seringkali tidak diketahui oleh konsumen karena perubahan yang dilakukan tidak terlalu besar, sehingga sulit disadari konsumen.
Kenaikan harga bahan baku plastik yang sebelumnya sekitar US$1.000 per metrik ton kini meningkat hingga US$1.800 atau hampir 80%. Indonesia juga masih sangat bergantung pada impor plastik. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, nilai impor plastik dan barang dari plastik mencapai US$ 873,2 juta atau setara Rp 14,78 triliun dalam satu bulan Februari 2026 (BPS, 2026) . Ketergantungan ini menyebabkan harga plastik di dalam negeri menjadi rentan terhadap kondisi global. Hal ini disebabkan oleh banyaknya perusahaan di Indonesia yang menggunakan plastik sebagai bahan kemasan produk mereka. Oleh karena itu, kenaikan harga plastik ini akan berdampak langsung pada biaya produksi bisnis, terutama di sektor industri makanan, minuman, dan barang kebutuhan sehari-hari, karena meningkatnya biaya bahan baku.
Fenomena shrinkflation dalam kasus ini dapat dikaitkan dengan teori perilaku produsen, di mana produsen berusaha memaksimalkan keuntungan di tengah kenaikan biaya produksi. Kenaikan harga plastik sebagai bahan baku menyebabkan meningkatnya biaya produksi, sehingga produsen melakukan penyesuaian untuk menjaga keuntungan. Dalam menghadapi situasi tersebut, produsen memiliki beberapa pilihan, di antaranya menaikkan harga jual, menurunkan kualitas produk, atau melakukan shrinkflation. Banyak pelaku usaha cenderung memilih opsi shrinkflation karena dianggap lebih aman dari sisi persepsi konsumen. Namun demikian, praktik ini tetap merugikan konsumen karena kuantitas produk yang diperoleh semakin kecil, meskipun harga tidak berubah.
Shrinkflation memiliki dampak yang besar terutama pada daya beli masyarakat. Ketika seseorang membeli sebuah produk, mereka mungkin hanya mendapatkan kualitas dan jumlah yang lebih sedikit dibandingkan sebelumnya tanpa harga produk tersebut tidak berubah sepeserpun. Jika hal ini terjadi secara luas dan terus-menerus, maka dapat membuat hidup rumah tangga konsumen menjadi lebih sulit dan mengurangi kemampuan mereka dalam membeli barang-barang yang mereka butuhkan. Hal Ini dapat menurunkan kesejahteraan konsumen dan membuat mereka lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang.
Saran Litbang : Konsumen harus waspada saat membeli barang. Konsumen harus memeriksa data mengenai ukuran, berat bersih, dan harga suatu produk. Hal ini dilakukan agar memperoleh informasi yang jelas yang disediakan oleh produsen. Selain itu, hal ini juga dapat didukung dengan pengawasan yang ketat oleh pemerintah sehingga para pebisnis harus bersikap transparan terhadap pelabelan terkait informasi. Pemerintah juga dapat menetapkan pajak atau kebijakan pembatasan plastik yang membuat produsen lebih jujur terhadap produknya.
CNN Indonesia (2026, 19 April). Ekonom Ingatkan Ancaman 'Shrinkflation' Imbas Kenaikan Harga Plastik". Diakses melalui https://www.cnnindonesia.com/
Kompas.com (2026, 15 April). Harga Plastik Melonjak hingga 80 Persen, Industri Masuk Fase “Ganti Harga”. Diakses melalui https://money.kompas.com
Alice, B., Salsabila, V., Nurdayanti, V., Fitriayani, D., Thufailla, R., & Athira, N. (2025). Fenomena shrinkflation: Studi hubungan antara penyusutan kemasan Momogi dengan kepuasan pelanggan. Innovative: Journal of Social Science Research, 5(2), 1081–1091. https://j-innovative.org/index.php/Innovative
detikFinance (2026, 05 April) Harga Plastik Mahal, RI Impor Rp 14,78 T dalam Sebulan. Diakses melalui https://finance.detik.com/
Badan Pusat Statistik. (2026). Data ekspor impor. Diakses melalui https://www.bps.go.id/id/exim
.png)
Komentar
Posting Komentar