[ MDBEI - Month Data Based Economic Insight ] Fenomena Konsumsi Mikro di Tengah Ketidakpastian Ekonomi
Fenomena Konsumsi Mikro di Tengah Ketidakpastian Ekonomi
Pada kuartal III ini, terdapat dua kejadian yang menentukan bagaimana masyarakat membelanjakan pendapatannya dan dua kejadian tersebut membuat masyarakat bingung untuk mengeluarkan pendapatannya, sehingga masyarakat terjebak antara mengonsumsi atau menabung. Kejadian tersebut adalah kenaikan harga minyak mentah yang mengontraksi pengeluaran masyarakat dan cairnya bansos yang mengekspansi pendapatan masyarakat. Harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) pada Agustus 2026 mencapai US$89,43 per barel, meningkat dari US$81,68 per barel pada Juli 2026. Sedangkan bansos yang cair berupa program BPNT (Bantuan Pangan Non-Tunai) dan PKH (Program Keluarga Harapan) yang nilainya tergantung jenis program dan golongan penerimanya.
Berdasarkan data di atas, dapat dibuktikan bahwa tekanan makro dari lonjakan harga energi global memang nyata, namun pemerintah menahan transmisinya ke harga BBM bersubsidi guna menjaga daya beli. Bank Indonesia merilis Survei Konsumen Bank Indonesia (SKBI) bulan Agustus 2026 yang mencatat bahwa proporsi pendapatan untuk konsumsi (Average Propensity to Consume/APC) meningkat menjadi 74,2%, sementara porsi tabungan tergerus menjadi 15,8%. Kondisi ini mengindikasikan bahwa ruang masyarakat untuk meningkatkan tabungan masih terbatas di tengah tekanan biaya hidup. Selain itu, data ini membuktikan bahwa masyarakat tidak menghentikan belanja, melainkan menyesuaikan aktivitas konsumsinya dan dibuktikan dengan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang tetap berada di zona optimis pada level 118,5.
Di antara kelas ekonomi, kelas menengah menjadi salah satu kelompok yang menghadapi tekanan cukup besar di mana kenaikan biaya hidup memberikan efek pendapatan yang tajam terhadap budget constraint masyarakat kelas menengah. Kelas menengah akan susah untuk mengalokasikan dananya ke sektor bernilai tambah tinggi, seperti investasi properti, pendidikan berkelanjutan dan deposito dan menciptakan inefisiensi alokasi sumber daya (allocative inefficiency). Jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menekan permintaan masyarakat dan berdampak pada penurunan aktivitas produksi serta pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurut Bhima Yudhistira Adhinegara, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), masyarakat tetap memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pokok, meskipun ditekan oleh kenaikan daya beli, sementara konsumsi barang sekunder cenderung mengalami pergeseran. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh tekanan ekonomi berganda akibat kenaikan harga pangan dan harga BBM nonsubsidi yang dapat mengurangi pendapatan riil masyarakat. Dampaknya, masyarakat cenderung menahan pembelian barang sekunder bernilai besar, seperti kendaraan, barang elektronik, hingga properti dan lebih berhati-hati dalam mengalokasikan pendapatannya untuk kebutuhan di luar kebutuhan pokok.
Gen Z dan kelas menengah yang tumbuh di tengah ketidakpastian (uncertainty) ekonomi kini memilih beradaptasi dengan memendekkan perencanaan masa depan mereka. Dalam kerangka Expected Utility Theory, individu yang memiliki preferensi risk-averse cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan keuangan ketika menghadapi ketidakpastian pendapatan dan biaya hidup. Pada saat yang sama, tingginya penawaran harga rumah dan suku bunga KPR melipatgandakan biaya kepemilikan rumah, sehingga kondisi ini mendorong sebagian masyarakat menunda keputusan kepemilikan rumah. Kondisi ini juga mendorong sebagian masyarakat untuk menunda keputusan kepemilikan rumah dan mengalokasikan pendapatan lebih besar untuk memenuhi kebutuhan konsumsi saat ini. Pergeseran alokasi pendapatan tersebut menunjukkan bahwa tekanan biaya hidup dapat membuat masyarakat lebih memprioritaskan kebutuhan jangka pendek dibandingkan komitmen keuangan jangka panjang. Fenomena ini juga mendorong produsen melakukan strategi shrinkflation, yaitu mempertahankan harga produk dengan mengurangi ukuran atau kuantitasnya, sementara konsumen menyesuaikan pola belanja untuk mempertahankan daya Beli.
Dalam merespons gejolak daya beli, Ibrahim Assuaibi (Direktur PT Laba Forexindo Berjangka) menyoroti pentingnya peran bantuan sosial (bansos) pemerintah sebagai penopang utama konsumsi (C) masyarakat bawah. Bansos pemerintah dapat meningkatkan konsumsi rumah tangga penerima dengan cara meningkatkan disposable income yang diterima rumah tangga. Kebijakan ini memberikan efek pengganda terhadap aktivitas ekonomi, karena peningkatan konsumsi dapat meningkatkan pendapatan nasional, sehingga memberikan efek pengganda terhadap perekonomian. Dalam Studi empiris Pardede menyatakan bahwa kelompok bawah memiliki Marginal Propensity to Consume (MPC) yang tinggi, sehingga mereka membelanjakan hampir seluruh dananya untuk kebutuhan pokok. Jika kita kaitkan, saat kelompok berpendapatan rendah mendapatkan bansos dari pemerintah, mereka cenderung menghabiskan dananya untuk konsumsi, peningkatan konsumsi ini mampu meningkatkan pendapatan nasional yang memberikan efek pengganda bagi perekonomian. Oleh karena itu, kelompok berpendapatan rendah memiliki dampak konsumsi yang lebih besar karena kelompok tersebut memiliki MPC yang relatif tinggi. Meski demikian, analisis ini menunjukkan bahwa mekanisme bansos ini hanyalah penawar sementara yang menjaga masyarakat bawah dari keterpurukan tanpa benar-benar memulihkan daya beli kelas menengah yang terus tergerus ketidakpastian.
Oleh karena itu, intervensi jangka pendek berbasis belanja pemerintah ini harus disikapi dengan kritis melalui evaluasi atas Teori Klasik yang sempat dikritik oleh Keynes. Dalam perspektif Keynesian, asumsi bahwa penawaran secara otomatis menciptakan permintaan dipandang tidak memadai untuk menjelaskan kondisi ketika permintaan agregat yang melemah dan ketidakpastian yang meningkat. Akan tetapi, Ketergantungan pada bansos sebagai penopang konsumsi dalam jangka panjang belum cukup untuk menggantikan peran penciptaan lapangan kerja produktif dan peningkatan pendapatan riil. Solusi untuk menyelesaikan permasalahan Gen Z dan kelas menengah dari jebakan corner solution bukanlah sekadar stimulus konsumsi harian, melainkan penciptaan lapangan kerja produktif dan masuknya investasi riil yang mampu meningkatkan upah riil secara berkelanjutan.
Saran Litbang:
Peralihan ke konsumsi mikro merupakan bentuk adaptasi masyarakat dalam menjaga kemampuan finansial harian. Kami menghimbau masyarakat untuk tidak terjebak dalam pola konsumsi ini dalam jangka panjang, sebab fenomena ini pada dasarnya hanyalah mekanisme penyesuaian psikologis (coping mechanism). Di sisi lain, kami menyelaraskan harapan bahwa narasi pembentukan lapangan kerja oleh pemerintah perlu direalisasikan melalui penciptaan lapangan kerja produktif yang terukur dan berkelanjutan. Oleh karena itu, kami mengingatkan juga bahwa intervensi jangka pendek berbasis belanja hanya dapat digunakan untuk menstimulasi permintaan masyarakat dalam jangka pendek dan bukan merupakan solusi jangka panjang.
https://www.metrotvnews.com/read/bmRCYqlM-pemerintah-jaga-tarif-bbm-dan-listrik-subsidi-meski-harga-minyak-naik
https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/00074918.2017.1434928#d1e369
https://www.bi.go.id/id/publikasi/laporan/Documents/SK-Agustus-2026.pdf
https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_2818326.aspx

Komentar
Posting Komentar